You are currently browsing the category archive for the 'cultural studies' category.

Edisi September 2004

www.inibuku.com -

Ramalan Leonardo da Vinci

Edisi Agustus 2004

www.inibuku.com – Buku ini dikarang oleh Leonardo da Vinci. “Orang-orang akan merasa menyaksikan penghancuran yang aneh di angkasa. Terlihat seolah-olah kobaran api meninggi di langit dan menjilat-jilat ke bawah, membuat orang-orang terteror ketakutan.”

Leonardo da Vinci dikenal di seantero dunia sebagai pencipta karya-karya seni yang indah. Tak banyak yang mengenalnya sebagai seorang penulis. Karya Leonardo da Vinci ini memperlihatkan renungan-renungannya yang mendalam tentang kemanusiaan, alam, dan soal ketuhanan.

Memuat tulisan dengan gaya, genre, dan sentuhan yang menarik, Ramalan Leonardo da Vinci ini merupakan sebuah refleksi memukau dan luar biasa dari lika-liku kehidupan spiritual seorang seniman hebat dunia. Dari butir-butir gagasan yang mengagumkan dalam buku ini kita memperoleh wawasan yang berharga tentang karya seorang seniman terkemuka dunia.

Leonardo da Vinci adalah seorang seniman dan insinyur: seorang jenius yang ahli dalam bidang sains dan seni. Dia banyak dikenal melalui karya pahatan dan lukisannya, terutama Mona Lisa. Leonardo juga menemukan prototipe pesawat terbang dan kapal selam. Dia bekerja di sebuah bengkel lukisan pada usia lima belas tahun, dan selama bertahun-tahun mengabdi kepada Duke Sforza di Milan dan kemudian bekerja sebagai Pelukis, Insinyur, dan Arsitek Kerajaan untuk Francis I, Raja Prancis.

Jejak Posmodernisme

Edisi Agustus 2004

www.inibuku.com – Jejak Posmodernisme merupakan karya Radhar Panca Dahana. Arus posmodernisme, yang merupakan respons keras atas modernisme, selama dua-tiga dekade belakangan begitu hebat mewarnai dan memengaruhi diskursus intelektual di negeri ini. Tapi ternyata posmodernisme di Indonesia tidak hanya menjadi satu masalah saintifik atau filosofis saja. Dengan cara-cara tertentu, posmodernisme juga diadopsi untuk digunakan sebagai alat menghadapi berbagai persoalan keseharian. Ini berarti bahwa pada satu titik tertentu posmodernisme kemudian tak hanya diletakkan dalam kerangka intelektual, tapi juga menjelma sebagai landasan bagi gerakan sosial yang aplikasinya dapat menyentuh berbagai dimensi kehidupan masyarakat. Kemudian, tanpa bisa dihindari, di wilayah publik muncul beragam penafsiran, yang bisa saja berbentur atau berbaur.

Buku ini merefleksikan pergulatan kaum intelektual Indonesia dalam kerangka atmosfer pemikiran semacam itu, di tengah-tengah perubahan sosial, politik, budaya, dan ekonomi negeri ini. Renungan dan kilas penjelajahan yang disajikan buku ini pada akhirnya mengajak kita untuk menakar ulang dan mengaca diri tentang sejauh mana peran dan keterlibatan kaum intelektual Indonesia berhadapan dengan situasi zaman baru yang kian akut dan kompleks.

Becoming WhiteEdisi Agustus 2004

www.inibuku.comBecoming White – Representasi Ras, Kelas, Femininitas dan Globalitas dalam Iklan Sabun karya Aquarini Priyatna Prabasmoro adalah sebuah kajian budaya yang menggugah ketidaksadaran kita atas pembentukan nilai oleh hal-hal sepele sehari-hari.

Sabun mandi yang digunakan sehari-hari oleh seluruh keluarga tanpa kita sadari ternyata dipenuhi oleh begitu banyak ilusi bawah sadar, disampaikan secara menarik, indah dan sangat membujuk melalui iklan, terus menerus bisa kita saksikan setiap saat di sela-sela menonton televisi. Tanpa diduga, iklan itu mampu menciptakan kesadaran semu massa tentang makna cantik, muncul anggapan bahwa yang cantik itu mesti putih.

Inilah buku pertama dan satu-satunya karya sarjana Indonesia yang dengan lugas mampu membahas ideologi dan kepentingan di balik industri citra sabun yang bertebaran setiap saat di televisi, terutama Lux dan Giv, dengan masing-masing bintangnya Tamara Blezinsky dan Sophia Latjuba. Disampaikan secara jeli dan perbandingan genial, buku ini menganalisis iklan sabun dalam hubungannya dengan ras dan rasisme, menerangkan pada khalayak tentang adanya upaya penumbuhan hasrat secara diam-diam di balik indah dan menariknya sebuah iklan.

dunia yang dilipat - Yasraf Amir Piliang - jalasutra

Edisi Juli 2004

www.inibuku.comDunia yang Dilipat adalah sebuah studi kebudayaan dari Yasraf Amir Piliang. Buku ini pernah diterbitkan oleh Mizan pada tahun 1998 dan menjadi buku laris pada saat itu. Cetak ulang ini ditambah dengan bagian Prolog dan Epilog serta 8 bab baru. Masih relevan dengan konteks kekinian buku ini layak dibaca dan akan memberikan banyak inspirasi bagi peminat cultural studies.

Bayangkan bahwa dunia itu seperti selembar kertas. Bagai seorang ahli origami, lipat kertas itu menjadi dua, empat, delapan, enam belas, dan seterusnya …. sampai pada satu titik, kertas itu tidak bisa dilipat lagi, bagaimanapun dilakukan. Kertas itu tidak dapat dilipat lagi disebabkan ada batas kemampuan struktur kertas itu yang menahan perubahan dirinya. Pemaksaan berupa penekanan, pemadatan, pemampatan atau perusakan akan memungkinkan kertas dilipat lebih lanjut. Akan tetapi, ini berarti kita telah melampaui batas-batas struktur, sifat, dan karakteristik yang seharusnya tidak dilewati. Melipat melewati batas yang seharusnya tidak dilewati melalui cara pemaksaan, pemadatan, pemampatan, penekanan, perusakan, pengerdilan (miniaturisasi) itulah lukisan sesungguhnya dari apa yang disebut sebagai dunia yang dilipat, yang ingin dilukiskan di dalam buku ini.

Beberapa hasil tulisan Yasraf Amir Piliang:

1. Transpolitika
2. Hipersemiotika: Tafsir Cultural Studies atas Matinya Makna
3. Posrealitas: Realitas Kebudayaan dalam Era Posmetafisika